Hilangkan Autisme dengan Senam Otak

Yogyakarta - Secara psikologis, autisme dipahami sebagai keadaan seseorang yang lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang menyebabkan penyandang autis terlihat sibuk dengan dunianya sendiri.

Autisme memang merupakan gangguan neurobiologis yang menetap. Gejalanya tampak pada gangguan bidang komunikasi, interaksi dan perilaku. Di Indonesia, pada tahun 2009 diperkirakan ada 475 ribu penyandang autis. Sedangkan di wilayah DIY ada 357 anak autis yang tersebar di 61 SLB di lima Kabupaten di provinsi DIY.

Meski gangguan neurobiologis tidak bisa diobati, tapi gejala-gejalanya bisa diminimalisir dengan menggunakan terapi. Namun demikian, biasanya terapi sangat mahal yakni Rp750 ribu sampai Rp3 juta per bulan.

Mahalnya biaya terapi inilah yang kemudian melatarbelakangi sekelompok mahasiswa Kedokteran Umum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KU-UMY) yakni Revani Dewinta Lestarin, Yunita Puji Lestari, Muhammad Nor Tauhid, dan Ragil Adi.S, meneliti senam otak yang tepat bagi penyandang autisme sebagai alternatif terapi gejala autisme dengan biaya murah.

”Ada terapi yang murah dan bisa digunakan bukan hanya di SLB saja, namun bisa juga dilakukan di rumah yaitu senam otak atau Brain Gym,” ungkap Revani saat ditemui di Kampus Terpadu UMY, Sabtu (6/2).

Menurut Revani gejala autisme ada beragam, beberapa di antaranya seperti mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengeri orang lain, tidak ada usaha untuk berinteraksi dengan orang lain, memiliki perilaku ritualistik, sering mengamuk tidak terkendali, dan agresif. “Terapi senam otak ini bisa menjadi salah satu solusi karena senam merupakan teknik elektrik yang membantu otak dan tubuh bekerja lebih efektif secara bersamaan,” paparnya.

Ia menjelaskan, gerakan senam otak juga meningkatkan komunikasi otak, dimana ada tiga komunikasi yang terjadi yakni komunikasi otak kanan dengan otak kiri, otak depan dan otak belakang, serta otak atas dan bawah. Komunikasi ini berguna untuk meningkatkan efisisensi dari informasi sensorik yang paling berguna bagi autis.

“Gerakan dalam senam otak pun bervariasi seperti membuat coretan ganda dalam waktu bersamaan, menggelakkan anggota tubuh, menggerakkan secara bergantian pasangan kaki dan tangan yang berlawanan, mengaktifkan tangan, melambaikan kaki dan masih banyak gerakan yang lainnya. senam otak cukup dilakukan dalam waktu 15 menit saja sehari,” jelasnya.

Saat ini Revani dan tim sedang melakukan penelitian mengenai pengaruh senam otak terhadap kualitas komunikasi, interaksi sosial dan pemfokusan pemahaman pada anak autis di dua SLB di Yogyakarta, yakni SLB Bina Anggita Banguntapan Bantul Yogyakarta sebagai sampel dan SLB Dian Amanah Sleman Yogyakarta sebagai kontrol.

”Di SLB Bina Anggita kita melakukan terapi senam otak terhadap anak-anak autis di sekolah tersebut, sedangkan di SLB Dian Amanah tidak kita lakukan, Sehingga kita bisa melihat perbandingan antara penderita autis yang di beri terapi senam otak dan yang tidak di beri,” imbuhnya.

Sumber: krjogja.com


Category Article

What's on Your Mind...