Bedoyo Srimpi

Wajahnya yang terlihat erotis, mampu memberikan tekanan yang menjanjikan pada penampilannya dari waktu ke waktu. Semakin bertambah geregetnya untuk bisa, semakin menuntunnya untuk melentikkan jari-jarinya yang berkarakter tipis itu dengan sebaik mungkin. Hasrat yang ia miliki, seakan selalu ingin dicanangkannya dalam menari. Bukan hal yang mustahil karena bundanya memang pensiunan balerina yang sering menampilkan kebolehannya dari panggung ke panggung. Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga, sifat orang tua biasanya menurun ke anak-anaknya. Itulah peribahasa yang tepat untuk gadis belia ini. Heri Sulistyo sang ayah adalah dokter terkemuka di sebuah rumah sakit ternama di daerah Jakarta Selatan, ternyata juga sangat menaruh hati terhadap budaya bangsa Indonesia yang dipandangnya sebagai budaya yang tiada taranya. Musabab itulah yang membuat Naluri Amelinda Sulistyo menjadi seorang pecinta budaya yang setia. Tentu sudah dapat diduga bila memang dari kecil Luri sudah mulai membiasakan diri untuk meluangkan waktu senggangnya dengan melukis budaya Nusantara di hatinya. Dahulu, Luri kecil sering berlatih untuk bisa seperti Alex, kakaknya. Menekuni seni lukis. Tetapi, lama kelamaan mulai timbul rasa bosan di pelupuk kalbunya yang masih sangat rentan untuk tersentuh kalimat-kalimat tercela dari kawan seprofesinya. Kemudian, untuk sekedar menghilangkan rasa gundah, ia mencoba untuk belajar mencari kawan. Harapnya berlebih untuk mencari kehidupan dalam masa kanak-kanaknya, bersama anak seumurannya, bukan bersama Bik Romlah yang super bawel dengan gaya bebek asli Italianya itu. Yach, anggapan saat masih anak-anak, jauh berbeda dengan Luri remaja saat ini. Ia lebih sering menstempel kata-katanya dengan balutan tinta kedewasaan. Lebih maju dari dunia kanaknya yang cuek bebek itu. Secara tidak sengaja tiba-tiba terlintas di benak Luri mengenai Ibu Reni Secilia, pelatihnya ketika dahulu ia masih berlatih menuangkan buah ekspresinya dalam mencorat-coret kanvas. Ibu Reni dulu selalu ia anggap sebagai malaikat yang paling baik hati. Karena saat teman-temannya dulu sering mengucilkannya , Ibu Reni lah yang menjadi tempat curahan hatinya. Ia teringat sesuatu yang menggelikan di benaknya. Luri tersenyum malu, tanpa memperhatikan apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Rupa-rupanya ia teringat akan duelnya dengan Vivi, di tengah-tengah lapangan di belakang taman Suplir. Saat itu puncak kesedihannya berkobar, karena bertepatan dengan pesta pernikahan Ibu Reni dengan Pak Rizal, guru privatnya. Sangat aneh memang, bila Luri bersikap acuh tak acuh dengan hari bahagia itu. Padahal pada kenyataannya Luri adalah anak kedua yang paling disayang Ibu Reni setelah Rafeniya, si kucing Amerika Latinnya. Bukannya mengucilkan atau merendahkan, namun pada kenyataannya dahulu memang seperti itu. Begitu pun sebaliknya dengan Luri. Ia sangat menyayangi Ibu Reni Secilia tentunya setelah kedua orang tuanya, dan Pidie , monster yang sering melancarkan aksi balas dendamnya kepada siapa saja yang mengganggu ketenteramannya, terutama kepada Monica, C.S nya di gang “ Siput Melati.”
Pidie adalah monster andalan. Dia juga yang menjadi saksi kunci kegilaan Luri di hari dini usia kanaknya. Mulai dari meletakkan baron si ular plastiknya di kamar Bik Romlah, sampai dengan ide gilanya mengangkat Ibu Reni menjadi istri kedua ayahnya, dengan kata lain menjadi ibunda tirinya. Sebelum ide gila itu kesampaian ternyata cinta Ibu Reni keburu tertambat pada Pak Rizal. Itulah alasan awal yang menjadi dalang akan sikap buruknya itu.
Brrruuuuuuk! Luri tersentak kaget. Astaga buku di rak sudah berantakan. Ia yakin ini ulah Pidie. Dilihatnya Pidie yang sedang mendengkur di kolong meja, lalu dimarahinya Pidie tapi cukup pelan. Ia tak lagi berani membentak anjing kesayanganya itu. Bila terpaksa perilakunya pun juga seperti ini. Kemudian ia segera beranjak dan berjalan mendekati kamar Alex. Tanpa mengetuk pintu ia langsung menemui kakaknya yang sedang sibuk bermain Play Station itu.
“Sorry Kak, Luri gak ketuk pintu dulu. Oh ya Kak, nanti tolong anterin ke sanggar yang bersebelahan dengan taman kota itu ya? Jam dua kurang dikit biar nyampainya nggak telat. Okey Kak!”
Naluri memang anaknya paling tidak bisa hidup boros. Sebentar-sebentar bila ingin bepergian selalu minta diantar. Padahal taksi di depan rumahnya berseliweran setiap menit.
“Hai, shitsurei itashimasu”. ( Ya, baiklah)
Rupanya Alex menggunakan bahasa negeri Jepang untuk membalas pertanyaan Naluri. Naluri yang tak begitu mengerti pun hanya mengartikannya dengan definisi “ya”. Satu hal yang diharapkannya adalah kakaknya menganggukkan kepalanya, dan terwujud. Dengan mata berbinar Luri meninggalkan ruangan yang sesak akan bermacam-macam lukisan dinding dengan berbagai variasi yang unik di dalamnya. Dan yang lebih menarik semua lukisan yang terpampang di dinding kamar itu adalah hasil dari pengembaraan imajinasi Alex selama bertahun-tahun ini. Itulah yang terkesan unik dan istimewa pada kakak Naluri. Itu pula yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya yang hingga saat ini belum ada satu pun yang berhasil berdomisili di hati pria keren bertubuh ramping ini.
Waktu begitu cepat berlalu dari kehidupan. Ternyata Alex memanfaatkan kesempatan ini untuk mengadakan suatu training memperdalam perhatiannya selama ini kepada halusnya perasaan wanita. Dan kelinci percobaan yang ia bidik pertama kali adalah sang adik. Mula-mula hati adik pemilik sebuah toko bertabur kreativitas itu agak terkesan akan perlakuan kakaknya yang halus ,sok perhatian namun ada kecenderungan untuk meluluhkan perasaan perempuan. Lama-lama ia gusar juga, sebab kehadiran sikap baru kakaknya itu menurutnya sudah keluar dari rel kebiasaan sang kakak. Ia tetap mendamba kakak semata wayangnya itu seperti dulu tanpa embel-embel sikap yang dibuat-buat. Beberapa menit kemudian sampailah ia di tempat tujuan. Di parkiran sanggar sudah penuh dengan kendaraan-kendaraan mewah para pejabat yang mungkin sedang mampir di sanggar milik Ibu Sri Sudibyo ini. Banyak kepentingan mereka lakukan, ada yang hanya sekedar refreshing untuk menghilangkan penat dengan menikmati tarian-tarian lembut dara-dara cantik , ada pula yang memanfaatkannya untuk membicarakan bisnis mereka dengan cara santai. Hal ini sudah terbiasa dilihat oleh para tetangga dan pemilik toko di sekitar sanggar. Tak begitu berfaedah untuk diomongkan melalui telinga-telinga binal para penggosip kawakan. Toh itu hanya akan menjadi kabar yang mudah tergelincir ke topic lain yang tidak bermanfaat.
Tanpa berpikir bahwa ia akan semakin mengerdilkan banyak waktunya lagi,Naluri segera beranjak menuju lokasi. Di joglo paling kanan sudah Nampak beberapa orang kawannya mulai menampakkan keanggunannya di bawah naungan cantrik Ibu Sri. Kacau! Luri ternyata datang terlambat. Ia tak tahu bagaimana rasanya bila ia nanti akan dimaki oleh beberapa tangan kanan Ibu Sri. Apakah nanti ia akan sekuat hati melipat-lipat mukanya yang pucat pasi itu di depan para pejabat yang sempat ada dalam batinnya di luar sanggar tadi? Ia tak tahu. Benar-benar canggung rasa hatinya untuk melangkahkan kakinya menuju tangga yang sudah ada di depan mata. Karena tak ingin semakin diancam keadaan, ia memutar badan untuk kembali menelusuri jalan-jalan berimpit yang sempat dilewatinya. Namun baru selangkah saja beranjak ada suara perempuan memanggil namanya. Bagaimanapun juga, mau tak mau,ia harus kembali membalikkan badan dan siap menerima segala resiko yang akan ia terima. Mulai dari cacian sampai dengan… Astaga! Ia tak sanggup bilamana nantinya ia bakalan menjadi sorotan utama hari itu. Dengan perlahan-lahan, ia berputar untuk menunjukkan wajah pasrahnya kepada wanita yang tengah memanggil-manggil namanya. Uuuuuups! Nona Nabhierta???
Wanita separuh baya itu kembali memanggil namanya. Kini ia bahkan melambaikan tangannya. Dengan perasaan yang seperti dicampur aduk segala macam rasa kopi paling pahit, ia mencoba untuk tetap bertahan. Kemudian dilangkahkan kakinya yang terasa amat berat itu menaiki anak tangga. Di ujung anak tangga paling atas, tiba-tiba perasaan serba tak enak itu amatlah terasa ringan disaat Nona Nabbhierta ternyata masih berpihak padanya.
“ Nyonya Sri Soedibyo yang sangat saya hormati, alangkah buruknya saya telah mengganggu waktu anda. Kalau saya diperkenankan, ingin sekali rasanya hati lebih mengenal gadis ini. Sekiranya mencabut sedikit waktu Anda, untuk lebih meyakinkan niat saya menjadikan gadis jelita ini seorang penari yang akan saya ajukan ke negeri Paman Sam. Dengan berlapis-lapis kebaikan hati Anda, sudikah kiranya anda memperkenankan permohonan saya ini Nyonya ?”
Rasanya hati berbahagia sekali. Sudah ditolong Nona Nabbhierta, masih juga mau diajukan ke negeri Paman Sam. Dan yang lebih bahagia, Nona Nabbhiertalah yang juga membebaskan Luri dari bayangan hukuman yang menjeratnya tadi. Apalagi saat Ibu Sri menyetujui permohonan izin tersebut. Rasanya tak ada yang lebih baik kecuali mengucapkan beribu terima kasih untuk Nona Nabbhierta. Namun, sepertinya ini bukan kesempatan yang tepat. Yang jelas hati Luri kini berbunga-bunga, bahagia dan bahagia.
Nona Nabbhierta kemudian menggandeng tangan Luri dan mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang. Tak lama kemudian aktivis yang super cendekia ini mulai melontarkan berbagai pertanyaan yang menyangkut tentang olah kehidupan Naluri. Mulai dari masa kanaknya yang sangat usil dan manja itu, sampai dengan ia ingin tahu apa musabab yang membuat Naluri menekuni seni tari yang sering dicap remeh oleh banyak remaja pada akhir-akhir ini.
“ Sebenarnya saya anaknya jahil. Banyak hal yang dulu sering saya tekuni, namun hasilnya tak ada yang memuaskan hati saya. Seiring dengan gonjang-ganjingnya bumi, saya mencoba untuk berlatih menari daerah. Bermula ketika saya sedang berlibur di rumah Eyang di Jogja, tepatnya di sekitar lereng-lereng pegunungan kapur. Saya mendapat pengalaman empirik perihal mencintai budaya. Kata yang dahulu tak pernah terbayangkan di benak saya, kini menjadi pedoman dalam perjalanan arah hidup saya yang baru sampai detik ini, dan harapan berlebih menjelang detik-detik kemudian nanti. Dulu nenek Irah, begitu banyak orang acap kali menyapa beliau, pernah memberikan sedikit wewarah mengenai asal-usul tempat tinggalnya. Kala itu, terdapatlah sebuah desa yang erotis. Menggoreskan deretan kekaguman yang berkesinambungan bagi setiap mata yang memandangnya. Bumi pertiwi yang bernuansa alami itu selalu memperlihatkan pesona mentari paginya yang begitu menyita hati di waktu fajar menjelang tiba. Burung-burung kecil yang bertaburan di atasnya seolah-olah menggantikan kemerlip bintang malam yang binasa di pagi hari. Nyanyian merdu kokok ayam jago menambah keelokan desa yang gemah ripah loh jinawi itu. Deretan bukit dan pegunungan kapur menjadi penyejuk jiwa bagi para penghuninya. Kemudian, saat itu terjadi pelarian-pelarian dari kerajaan Majapahit. Seorang dari Majapahit itu ada yang bernama Bethara Katong. Menurut penuturan nenek saya, sosok ini bersifat arif, adil dan bijaksana. Ia selalu menjadi pedoman bagi para anak buahnya, yang bernama Jagasara, Jaganala, Jambe, Mendung dan Simolodra, serta seorang penari wanita yang membawakan tari daerah khas Jogjakarta.
Pada hari-hari awal mereka berada di desa tersebut, tak ada satu pun penduduk yang menawarkan tempat hunian sementara. Pada masa - masa itu mereka hanya bermalam di sebuah gua. Dengan berbekal sedikit persediaan makanan dan hasil buruan mereka dapat bertahan hidup, selama beberapa hari. Karena merasa hanya berdiam saja tak akan mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat, mereka berkeputusan untuk meninggalkan hunian sementara itu. Sebagai pertanda akan kehadiran mereka di gua tersebut, diletakkannya sebuah payung asli keraton yang bernama “ Gialap ” diantara tumpukan batu yang unik, hasil dari pahatan gemericik air hujan di muka tempat bersejarah itu.
Atas kemantapan hati sang puteri, bersama-sama mereka berjalan ke arah selatan. Di sana segerombol priyayi ini mendapatkan suatu tempat untuk kembali melepaskan bakat mereka yang sempat tertunda. Sesuai dengan peraturan yang telah mereka sepakati, mereka akan menempati kekuasaan masing-masing dan mengayomi masyarakat di tempat tersebut. Kepercayaan masyarakat dan akrabnya kekerabatan antar kawanan itu membuat mereka semakin disegani. Hingga pada suatu saat ketika putri ini sedang berjalan pulang dari tempatnya menari, ia bertemu dengan seorang pemuda separuh baya. Kelincahan pemuda itu memanfaatkan situasi sangatlah tinggi, sehingga si penari ini dengan mudahnya terperdaya oleh ajal. Takdirnya sungguh naas. Karena tak ingin perbuatan keji itu terungkap, pria itu kemudian mengubur jasad wanita tak bersalah itu di sebuah lubang galian yang telah dipersiapkannya sebelumnya. Tepatnya di bawah sebuah pohon Semboja. Kedengarannya tragis, namun lebih tragis bila nyatanya ia merampas perhiasan si penari tersebut setelah sebelumnya menguburnya diantara tumpukan semak belukar yang banyak menggunung-gunung di kawasan tersebut.
Pandangan Nona Nabbhierta yang asli berdarah Jepang itupun kemudian diam seribu bahasa, mendapati anak remaja di depannya tengah asyik bercerita.
“ Setelah selesai menutup gundukan tanah itu dengan gunungan semak-semak, si jahanam tadi, pergi meninggalkan tempat itu dengan menenteng sebuah tas berisi perhiasan dan berbagai macam harta benda yang sebelumnya telah dijarahnya. Berbekal sebatang kayu yang sempat dibawanya dari tengah hutan tadi siang, ia berhasil melewati deretan bukit yang terjal, bergunung-gunung dan berliku. Semalam ia melakukan perjalanan yang melelahkan itu. Hingga pada beberapa waktu lamanya, perampok ini sampai di sebuah daratan. Ia berhenti sejenak. Namun hanya beberapa saat saja ia berdiam di atas tanah berumput itu, para penduduk desa yang berpencar mulai terdengar bernada mengumpat. Karena tergesa-gesa si perampok ini kehilangan akal. Ia buang saja jauh-jauh tas itu hingga akhirnya tercebur ke dalam sungai yang airnya dangkal. Kemudian si perampok ini berlari menjauh berbaur menjadi satu dengan akut pagi, Namun, karena lintasan-lintasan yang begitu bermacam-macam, akhirnya penduduk desa gagal mendapati jasad si perampok. Sedang sang penari saat itu juga ditemukan, karena ada yang secara tidak sengaja menjadi saksi mata perbuatan keji itu. Akhirnya tanah yang sempat digunakan untuk memendam penari itu, kini difaedahkan sebagai tanah perkuburan umum. Dan daerah kependudukan yang semula berada di wilayah sebelah utara kini dipindahkan ke sebelah selatan. Kemudian, ada yang terinspirasi memberikan nama desa baru tersebut dengan menyangkut pautkan kisah sang penari daerah yang membawakan nama tari Bedoyo Srimpi. Kemudian desa ini diberi nama Bedoyo. Begitu hingga akhirnya desa ini menjadi makmur dan sejahtera. Itulah mengapa ketika ada beberapa pilihan tarian di sanggar ini, saya langsung jatuh cinta pada nama tarian ini yaitu tari Bedoyo Srimpi. Dari situ pula saya mulai menekuni tarian ini.”
“ Oh, jadi begitu Ri ? Saya terkesan sekali mendengar ceritamu itu. Kapan-kapan bolehlah saya mendengar cerita yang lain. Oh, ya. Hari sudah mulai sore. Lagi pula kamu harus pulang kan ? Maaf kalau sudah mengganggu waktumu. Selamat sore.”
“ Selamat sore juga.”
Diam-diam Nona Nabhiertha menyodorkan kekaguman tersendiri pada gadis belia ini. Pertanyaan yang pernah muncul di benaknya akan penjiwaan gadis ini dalam membawakan tari Bedoyo Srimpi terjawab sudah. Gadis ini membawakan tarian tidak hanya dengan bahasa tubuh tetapi dengan segenap jiwanya. Dan semakin mantap pula niatnya untuk menggandeng gadis ini menuju negeri Paman Sam dalam Festival Budaya Asia.
Di tempat itu Luri termangu sendiri. Menatap hari yang cerah penuh akan kebahagiaan. Mengawali indahnya semburat-semburat cahaya yang mulai nampak dari kejauhan. Oh, indahnya langit senja.

(Desiana - Perpustakaan SMP 2 Ponjong)


Category Article

What's on Your Mind...