Home > Catatan Kecil > Sunset di Pantai Depok
Sunset di Pantai Depok
Posted on 11 February 2009 by Admin
Matahari hampir condong kearah barat saat kami tiba di pantai Depok, salah satu pantai indah di kawasan Bantul, Yogyakarta. Aku meletakkan helm diatas motor, lalu menepi, membiarkan teman-temanku yang lain untuk memarkirkan motornya. Liburan bersama teman-teman sehabis penat dengan ujian semester, memang sebuah obat tersendiri.
“Aku nggak nyangka akhirnya kamu ikut berpetualang lagi,”sapa Indri membuatku tersenyum pahit. Memang terhitung sudah duabelas kali aku absen dari acara petualang bersama teman-teman kampus.
“Hei… aku kira nggak bakal bertualang bareng kamu lagi,Lun!”
.”Kangen aku Lun…”
Suara renyah Apri diikuti tawa teman-teman yang lain. Oh, sungguh hangat sambutan mereka. Aku tersipu, sembari melangkahkan kali menginjak pasir pantai. Indri menarik tanganku mendekat ke air laut. Dengan halus aku menolak.
“Ayo Lun…!”sambung Okta. Aku menggeleng diiringi senyum. Okta mencibir.
Satu persatu teman-teman berhamburan, berlarian mendekat air laut setelah memarkirkan motor. Mereka saling melepas canda tawa. Ramai sekali. Aku memilih untuk duduk ditepian pantai. Angin pantai membuatku lebih merapatkan jaket yang kupakai. Sesekali aku menoleh kebelakang, mencari sosoknya. Orang yang dulu kerap mengajakku ketempat-tempat seperti ini. Tumben dia tidak ikut bersama teman-teman, tanyaku dalam hati.
“Mencari Andra ya? Dia nyusul dibelakang, tenang aja…”bisik Dodi yang ternyata mengerti kgelisahanku. Aku tersenyum simpul. Dodi duduk disebelahku.
“Aku nggak nyangka kalian bisa putus,”sambung Dodi membuka pembicaraan.
“Sudah,nggak usah dibahas Dod,”tukasku. Dodi mengangkat bahu.
“Tapi aku senang akhirnya kamu bisa bersikap biasa, nggak sembunyi terus.”
“Aku nggak sembunyi, kalau aku nggak pernah ngumpul bareng temen, itu karena aku sekarang sibuk kerja part time”jelasku tanpa diminta. Dodi ber-Oh saja.
Aku menggigit bibir. Iya, part time di RS, sambungku dalam hati. Sudah enam bulan ini aku wajib check up ke RS, dikarenakan penyakit ginjal yang aku derita. Sebenarnya dokter menyuruhku cuti kuliah, tapi aku tolak dengan alasan kuliahku tinggal satu semester lagi. Memang kurasakn kondisiku menurun. Bahkan mama mengatakan kalau kondisiku tidak membaik, aku harus cuci darah terhitung mulai bulan depan. Aku meringis. Yang penting aku tidak boleh terlalu capek, kataku dalam hati.
“Itu mereka datang Lun,”suara Dodi membuyarkan lamunanku. Aku menoleh pada sosok mereka yang dimaksud. Tampak olehku Arif, Dani, Andra dan seorang cewek berperawakan kurus didekatnya. Aku tidak kenal siapa dia. Tapi sepertinya dia punya hubungan spesial dengan Andra. Lihat saja, tangan kanan cewek itu melingkar dipinggang Andra, sementara tangan kirinya membawakan jaket putih milik Andra. Aku masih ingat, jaket itu aku berikan saat ulang tahun Andra yang keduapuluh satu.
“Hai, lupa jalan ke Depok ya!”Dodi berteriak sembari melambaikan tangan.
Andra dan cewek itu menoleh, lalu tersenyum. Aku berusaha menyembunyikan muka. Sungguh, jantungku berdebar kencang sekali saat ini. Sayup-sayup kudengar suara Andra mendekat. Oh, dia berdiri tepat dibelakangku. Sejenak aku jadi salah tingkah. Dodi berdiri, lalu menarik tanganku untuk ikut berdiri. Dalam hati aku menyumpahi Dodi. Pasti ini bagian dari rencananya untuk mempertemukanku dengan Andra.
“Ha…hai..”sapaku gugup. Mau tidak mau aku ikut berdiri, lalu menyalami mereka berdua.
“Ha…hai Lun…tumben…”suara Andra tampak terkejut. Cewek didekatnya menatapku penuh tanya.
“Oh iya, ini Nita..”ucap Andra tanpa meneruskan kalimatnya.
“Luna,” kataku sembari mengulurkan tangan. Cewek itu menyambut uluran tanganku tanpa kata-kata. Aku bisa menangkap rasa tidak senang dari raut mukanya.
“Teman kuliah Andra juga?”tanyanya dingin. Aku mengangguk.
Beberapa saat kami berdiri berempat tanpa suara. Andra yang dulu humoris dan suka tertawa, kini tak bicara sepatah katapun. Sepertinya Dodi bisa membaca situasi. Dia menarik tanganku untuk menjauh.
“Aku tinggal dulu ya, ini Luna tadi mau cari minum katanya…”
“Oh.. iya..”kataku gugup. Andra dan Nita mengangguk. Dengan ekor mata, masih kulihat Andra menatapku.Jujur aku sangat merindukan saat-saat seperti ini.
“Sori ya Lun, kamu jadi nggak enak,”kata Dodi sembari mencari tempat duduk.
“Nggak apa-apa. Mereka sudah lama jadian?”tanyaku. Dodi menggeleng.
“Baru dua bulan. Ceweknya terlewat manja, teman-teman tidak suka dengan sikapnya. Apalagi Indri,”jelas Dodi.
“Bukannya cewek manja itu menggemaskan?”candaku. Dodi tersenyum.
“Iya sih, tapi terlampau manja jadi kekanak-kanakan. Lihat saja, kemana-mana maunya sama Andra melulu. Andra jadi nggak punya kesempatan dengan teman yang lain!”
Aku tertawa. Aku jadi teringat masa lalu, saat aku masih berpacaran dengan Andra. Kami memang selalu berdua, tapi juga lihat situasi. Kalau sedang main bareng teman-teman, kami ikut bergabung. Malah kadang teman-teman yang sengaja memberi kami kesempatan untuk berduaan.
“Wah… mumpung belum sunset Lun, ayo gabung sama temen-temen, kita foto-foto! Keburu gelap!”
Dodi menarik tanganku. Aku menggeleng.
“Aku disini saja, capek. Nanti aku menyusul,” kataku. Dodi mendengus lalu berlari kearah teman-teman yang lain. Dari tempat duduk, kulihat Andra sedang bercanda dengan Nita. Apa aku cemburu ya?Ah, kurasakan pinggangku sakit sekali. Uh, jangan sampai penyakitku kambuh pada saat-saat seperti ini.
Aku memutuskan untuk mendekat ke bibir pantai. Jarang sekali aku bisa menikmati indahnya sunset dipantai Depok. Sembari menahan rasa sakit, akhirnya aku berhenti didekat teman-teman yang sedang asik berfoto-foto. Beberapa kali aku ikut berfoto bersama mereka. Terakhir aku dipaksa berpose berdua dengan Andra, tentu saja setelah Nita diamankan oleh Indri dan Dodi. Kami berdiri sangat dekat, sampai aroma parfum Andra tercium jelas olehku. Jantungku berdegup lebih kencang. Aku jadi gugup sekali. Tiba-tiba Andra memegang tanganku. Aku tersentak.
“Boleh kan?”tanyanya pelan sembari menatap mataku. Aku mengangguk samar. Kudengar derai tawa teman-teman menyaksikan kami berdua.
Setelah berfoto, Andra mengajakku duduk berdua dipinggir pantai.
“Apa tidak ada yang marah?”tanyaku. Andra tersenyum.
“Tenang saja, aman…” candanya. Aku tertawa. Aku berusaha menjauhkan pikiranku dari masa lalu. Ingat Luna! Andra yang sekarang bukan milikmu lagi!
“Aku mau tanya sesuatu, boleh?” tanyaku membuka pembicaraan. Andra mengangguk.
“Apa karena Nita, kamu mutusin aku?”
Tidak ada jawaban. Andra membuang muka.
“Aku bisa terima kok, jika itu memang terbaik untuk kamu…”
Andra meletakkan jarinya kebibirku.Aku terdiam.
“Maafin aku Luna, tapi suatu saat kamu akan tahu...”
Andra menatap jauh kelangit yang mulai gelap.Bukan jawaban yang kuinginkan. Andra menepuk pundakku lalu pergi begitu saja. Aku mendesah. Rasa sakit hatiku melebihi rasa sakit ditubuhku.
Sunset di pantai Depok, mengiringi langkahku dan teman-teman menjauh dari bibir pantai. Aku terus bertanya-tanya tentang Andra. Aku sangat mengenalnya. Aku yakin dia masih mencintaiku. Tapi kenapa dia meniggalkanku?
Sampai di warung seafood di area pantai, mama sms. Bukan kabar bagus. Aku positif harus cuti kuliah dan rutin cuci darah bulan depan. Rasanya aku mau pingsan. Aku segera berlari menjauh dari teman-teman. Tak kuasa aku menangis.
“Kamu kenapa Lun?”suara Indri membuatku semakin terisak.
“Andra ya.. kamu baik-baik aja kan? Mukamu pucat sekali…” tanya dia lagi. Aku tak menjawab. Indri mendekat, lalu duduk disampingku.
“Aku mau cerita…. tentang Andra, Lun…Sungguh dia masih mencintaimu..”
“Sebenarnya bukan keinginan Andra untuk berpisah denganmu… Nita mencintai Andra sejak SMP dulu. Dan sekarang Nita divonis ginjal, sedikit kemungkinan untuk sembuh..”ucap Indri pelan.
“Andra yakin kamu bisa mengerti. Andra melakukan semua ini karena kasihan pada Nita… kita tidak tahu bagaimana Nita menderita… biarkan dia bahagia untuk terakhir kalinya Lun…kamu bisa terima kan?”
Aku semakin terisak. Lalu bagaimana dengan aku In?pekikku dalam hati. Kenapa justru aku yang harus mengalah pada kondisi yang sama?
“Aku ngerti kok In… “aku berhenti terisak. Kuusap air mataku. Aku mencoba untuk tersenyum. Indri memelukku hangat.
“Semua akan segera berakhir. Andra milikmu Lun, dia pasti akan kembali padamu…Sekarang jangan menyalahkan Andra. Kamu harus bersikap dewasa. Kamu harus tetap rajin kekampus, dan tetap kumpul bareng dengan teman-teman. Oke Lun?”
Aku menggeleng sambil melepaskan pelukan.
“Jangan sembunyi lagi Lun.. kami semua merindukanmu…seperti dulu..”
“Aku nggak bisa…”tukasku.
“Maaf….”sambungku membuat Indri mengernyitkan dahi.
“Kenapa Lun..? Berarti kamu belum bisa bersikap dewasa!”
Aku cepat-cepat menggeleng… tanpa pikir panjang lagi, kutunjukkan sms yang dikirim mama tadi. Indri tampak bingung saat menerima Hpku. Dibacanya pelan-pelan.
Beberapa menit kemudian kami terdiam. Indri berfikir sejenak. Selanjutnya kulihat air mata Indri jatuh satu-satu. Kali ini dia yang menangis.
Ditatapnya mataku lekat-lekat. Aku berusaha setegar mungkin. Kucoba menyunggingkan sebuah senyuman. Meski sulit.
“Lun….”Indri tidak meneruskan kalimatnya. Dia menunggu penjelasanku.
Aku hanya menganggukkan kepala pelan.
“In…aku hanya takut, saat dia kembali padaku besok, aku sudah tidak berada disisinya…karena aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan…”kataku dengan suara lemah. Indri menatapku penuh makna. Isaknya semakin keras. Kurasakan dadanya berguncang dalam pelukanku. Kami menangis, mengiringi gelap yang mulai menyelimuti pantai Depok.
(Nila)
“Aku nggak nyangka akhirnya kamu ikut berpetualang lagi,”sapa Indri membuatku tersenyum pahit. Memang terhitung sudah duabelas kali aku absen dari acara petualang bersama teman-teman kampus.
“Hei… aku kira nggak bakal bertualang bareng kamu lagi,Lun!”
.”Kangen aku Lun…”
Suara renyah Apri diikuti tawa teman-teman yang lain. Oh, sungguh hangat sambutan mereka. Aku tersipu, sembari melangkahkan kali menginjak pasir pantai. Indri menarik tanganku mendekat ke air laut. Dengan halus aku menolak.
“Ayo Lun…!”sambung Okta. Aku menggeleng diiringi senyum. Okta mencibir.
Satu persatu teman-teman berhamburan, berlarian mendekat air laut setelah memarkirkan motor. Mereka saling melepas canda tawa. Ramai sekali. Aku memilih untuk duduk ditepian pantai. Angin pantai membuatku lebih merapatkan jaket yang kupakai. Sesekali aku menoleh kebelakang, mencari sosoknya. Orang yang dulu kerap mengajakku ketempat-tempat seperti ini. Tumben dia tidak ikut bersama teman-teman, tanyaku dalam hati.
“Mencari Andra ya? Dia nyusul dibelakang, tenang aja…”bisik Dodi yang ternyata mengerti kgelisahanku. Aku tersenyum simpul. Dodi duduk disebelahku.
“Aku nggak nyangka kalian bisa putus,”sambung Dodi membuka pembicaraan.
“Sudah,nggak usah dibahas Dod,”tukasku. Dodi mengangkat bahu.
“Tapi aku senang akhirnya kamu bisa bersikap biasa, nggak sembunyi terus.”
“Aku nggak sembunyi, kalau aku nggak pernah ngumpul bareng temen, itu karena aku sekarang sibuk kerja part time”jelasku tanpa diminta. Dodi ber-Oh saja.
Aku menggigit bibir. Iya, part time di RS, sambungku dalam hati. Sudah enam bulan ini aku wajib check up ke RS, dikarenakan penyakit ginjal yang aku derita. Sebenarnya dokter menyuruhku cuti kuliah, tapi aku tolak dengan alasan kuliahku tinggal satu semester lagi. Memang kurasakn kondisiku menurun. Bahkan mama mengatakan kalau kondisiku tidak membaik, aku harus cuci darah terhitung mulai bulan depan. Aku meringis. Yang penting aku tidak boleh terlalu capek, kataku dalam hati.
“Itu mereka datang Lun,”suara Dodi membuyarkan lamunanku. Aku menoleh pada sosok mereka yang dimaksud. Tampak olehku Arif, Dani, Andra dan seorang cewek berperawakan kurus didekatnya. Aku tidak kenal siapa dia. Tapi sepertinya dia punya hubungan spesial dengan Andra. Lihat saja, tangan kanan cewek itu melingkar dipinggang Andra, sementara tangan kirinya membawakan jaket putih milik Andra. Aku masih ingat, jaket itu aku berikan saat ulang tahun Andra yang keduapuluh satu.
“Hai, lupa jalan ke Depok ya!”Dodi berteriak sembari melambaikan tangan.
Andra dan cewek itu menoleh, lalu tersenyum. Aku berusaha menyembunyikan muka. Sungguh, jantungku berdebar kencang sekali saat ini. Sayup-sayup kudengar suara Andra mendekat. Oh, dia berdiri tepat dibelakangku. Sejenak aku jadi salah tingkah. Dodi berdiri, lalu menarik tanganku untuk ikut berdiri. Dalam hati aku menyumpahi Dodi. Pasti ini bagian dari rencananya untuk mempertemukanku dengan Andra.
“Ha…hai..”sapaku gugup. Mau tidak mau aku ikut berdiri, lalu menyalami mereka berdua.
“Ha…hai Lun…tumben…”suara Andra tampak terkejut. Cewek didekatnya menatapku penuh tanya.
“Oh iya, ini Nita..”ucap Andra tanpa meneruskan kalimatnya.
“Luna,” kataku sembari mengulurkan tangan. Cewek itu menyambut uluran tanganku tanpa kata-kata. Aku bisa menangkap rasa tidak senang dari raut mukanya.
“Teman kuliah Andra juga?”tanyanya dingin. Aku mengangguk.
Beberapa saat kami berdiri berempat tanpa suara. Andra yang dulu humoris dan suka tertawa, kini tak bicara sepatah katapun. Sepertinya Dodi bisa membaca situasi. Dia menarik tanganku untuk menjauh.
“Aku tinggal dulu ya, ini Luna tadi mau cari minum katanya…”
“Oh.. iya..”kataku gugup. Andra dan Nita mengangguk. Dengan ekor mata, masih kulihat Andra menatapku.Jujur aku sangat merindukan saat-saat seperti ini.
“Sori ya Lun, kamu jadi nggak enak,”kata Dodi sembari mencari tempat duduk.
“Nggak apa-apa. Mereka sudah lama jadian?”tanyaku. Dodi menggeleng.
“Baru dua bulan. Ceweknya terlewat manja, teman-teman tidak suka dengan sikapnya. Apalagi Indri,”jelas Dodi.
“Bukannya cewek manja itu menggemaskan?”candaku. Dodi tersenyum.
“Iya sih, tapi terlampau manja jadi kekanak-kanakan. Lihat saja, kemana-mana maunya sama Andra melulu. Andra jadi nggak punya kesempatan dengan teman yang lain!”
Aku tertawa. Aku jadi teringat masa lalu, saat aku masih berpacaran dengan Andra. Kami memang selalu berdua, tapi juga lihat situasi. Kalau sedang main bareng teman-teman, kami ikut bergabung. Malah kadang teman-teman yang sengaja memberi kami kesempatan untuk berduaan.
“Wah… mumpung belum sunset Lun, ayo gabung sama temen-temen, kita foto-foto! Keburu gelap!”
Dodi menarik tanganku. Aku menggeleng.
“Aku disini saja, capek. Nanti aku menyusul,” kataku. Dodi mendengus lalu berlari kearah teman-teman yang lain. Dari tempat duduk, kulihat Andra sedang bercanda dengan Nita. Apa aku cemburu ya?Ah, kurasakan pinggangku sakit sekali. Uh, jangan sampai penyakitku kambuh pada saat-saat seperti ini.
Aku memutuskan untuk mendekat ke bibir pantai. Jarang sekali aku bisa menikmati indahnya sunset dipantai Depok. Sembari menahan rasa sakit, akhirnya aku berhenti didekat teman-teman yang sedang asik berfoto-foto. Beberapa kali aku ikut berfoto bersama mereka. Terakhir aku dipaksa berpose berdua dengan Andra, tentu saja setelah Nita diamankan oleh Indri dan Dodi. Kami berdiri sangat dekat, sampai aroma parfum Andra tercium jelas olehku. Jantungku berdegup lebih kencang. Aku jadi gugup sekali. Tiba-tiba Andra memegang tanganku. Aku tersentak.
“Boleh kan?”tanyanya pelan sembari menatap mataku. Aku mengangguk samar. Kudengar derai tawa teman-teman menyaksikan kami berdua.
Setelah berfoto, Andra mengajakku duduk berdua dipinggir pantai.
“Apa tidak ada yang marah?”tanyaku. Andra tersenyum.
“Tenang saja, aman…” candanya. Aku tertawa. Aku berusaha menjauhkan pikiranku dari masa lalu. Ingat Luna! Andra yang sekarang bukan milikmu lagi!
“Aku mau tanya sesuatu, boleh?” tanyaku membuka pembicaraan. Andra mengangguk.
“Apa karena Nita, kamu mutusin aku?”
Tidak ada jawaban. Andra membuang muka.
“Aku bisa terima kok, jika itu memang terbaik untuk kamu…”
Andra meletakkan jarinya kebibirku.Aku terdiam.
“Maafin aku Luna, tapi suatu saat kamu akan tahu...”
Andra menatap jauh kelangit yang mulai gelap.Bukan jawaban yang kuinginkan. Andra menepuk pundakku lalu pergi begitu saja. Aku mendesah. Rasa sakit hatiku melebihi rasa sakit ditubuhku.
Sunset di pantai Depok, mengiringi langkahku dan teman-teman menjauh dari bibir pantai. Aku terus bertanya-tanya tentang Andra. Aku sangat mengenalnya. Aku yakin dia masih mencintaiku. Tapi kenapa dia meniggalkanku?
Sampai di warung seafood di area pantai, mama sms. Bukan kabar bagus. Aku positif harus cuti kuliah dan rutin cuci darah bulan depan. Rasanya aku mau pingsan. Aku segera berlari menjauh dari teman-teman. Tak kuasa aku menangis.
“Kamu kenapa Lun?”suara Indri membuatku semakin terisak.
“Andra ya.. kamu baik-baik aja kan? Mukamu pucat sekali…” tanya dia lagi. Aku tak menjawab. Indri mendekat, lalu duduk disampingku.
“Aku mau cerita…. tentang Andra, Lun…Sungguh dia masih mencintaimu..”
“Sebenarnya bukan keinginan Andra untuk berpisah denganmu… Nita mencintai Andra sejak SMP dulu. Dan sekarang Nita divonis ginjal, sedikit kemungkinan untuk sembuh..”ucap Indri pelan.
“Andra yakin kamu bisa mengerti. Andra melakukan semua ini karena kasihan pada Nita… kita tidak tahu bagaimana Nita menderita… biarkan dia bahagia untuk terakhir kalinya Lun…kamu bisa terima kan?”
Aku semakin terisak. Lalu bagaimana dengan aku In?pekikku dalam hati. Kenapa justru aku yang harus mengalah pada kondisi yang sama?
“Aku ngerti kok In… “aku berhenti terisak. Kuusap air mataku. Aku mencoba untuk tersenyum. Indri memelukku hangat.
“Semua akan segera berakhir. Andra milikmu Lun, dia pasti akan kembali padamu…Sekarang jangan menyalahkan Andra. Kamu harus bersikap dewasa. Kamu harus tetap rajin kekampus, dan tetap kumpul bareng dengan teman-teman. Oke Lun?”
Aku menggeleng sambil melepaskan pelukan.
“Jangan sembunyi lagi Lun.. kami semua merindukanmu…seperti dulu..”
“Aku nggak bisa…”tukasku.
“Maaf….”sambungku membuat Indri mengernyitkan dahi.
“Kenapa Lun..? Berarti kamu belum bisa bersikap dewasa!”
Aku cepat-cepat menggeleng… tanpa pikir panjang lagi, kutunjukkan sms yang dikirim mama tadi. Indri tampak bingung saat menerima Hpku. Dibacanya pelan-pelan.
Beberapa menit kemudian kami terdiam. Indri berfikir sejenak. Selanjutnya kulihat air mata Indri jatuh satu-satu. Kali ini dia yang menangis.
Ditatapnya mataku lekat-lekat. Aku berusaha setegar mungkin. Kucoba menyunggingkan sebuah senyuman. Meski sulit.
“Lun….”Indri tidak meneruskan kalimatnya. Dia menunggu penjelasanku.
Aku hanya menganggukkan kepala pelan.
“In…aku hanya takut, saat dia kembali padaku besok, aku sudah tidak berada disisinya…karena aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan…”kataku dengan suara lemah. Indri menatapku penuh makna. Isaknya semakin keras. Kurasakan dadanya berguncang dalam pelukanku. Kami menangis, mengiringi gelap yang mulai menyelimuti pantai Depok.
(Nila)
Category Article Catatan Kecil
Popular Posts
-
Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengisi waktu luang. Membaca, mendengarkan musik? Itu biasa….kalau di Batam beda lagi ceritanya..Para ...
-
Pagi-pagi online, dapetin trik keren ini... Selamat mencoba trik ini ! Gerakan yang tepat di pagi hari akan membuat Anda fokus, bersemang...
-
Mungkin Anda tidak percaya dengan foto-foto ini. Foto ini nyata tanpa ada pengeditan.
-
Sapa mau dapat 5$ dari marketiva? Tanpa syarat apapun cuma daftar dan isi formulir pendaftaran dengan benar. Yo buruan daftar Jangan tung...
-
Yogyakarta - Secara psikologis, autisme dipahami sebagai keadaan seseorang yang lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendir...
Archive
-
▼
2009
(23)
-
▼
February
(13)
- Anak Kecil yang Takut Api Neraka
- Peranan Pemuda Islam Dalam Masyarakat
- Brazil atasi Italia, Indonesia bantai Jerman
- Sunset di Pantai Depok
- Ada Yang Tersembunyi dari Mia
- Letak Kecantikan Wanita
- Bagaimana Anda Mampu Kuat Bekerja
- Berubah Aja
- Rela Dimasukkan ke Dalam Neraka
- Tips Melamar Pekerjaan Via Email
- Keep Your Smile
- ANTARA SABAR DAN MENGELUH
- Wanita Berjilbab Idaman Setiap Laki-laki
-
▼
February
(13)