Home > Catatan Kecil > Ada Yang Tersembunyi dari Mia
Ada Yang Tersembunyi dari Mia
Posted on 11 February 2009 by Admin
Pukul sebelas malam, semua peserta Masa Orientasi Siswa atau MOS dibangunkan. Sambil menguap berulang kali, aku berlari menuju lapangan. Sungguh, aku masih mengantuk.
”Cepat, lari!”teriak seniorku yang sudah bersiaga di luar lapangan.
”Dalam hitungan kesepuluh, semua membentuk barisan!”teriak kakak senior yang lain. Semua panik. Aku juga. Heran, kurang kerjaan sekali mereka. Malam-malam begini membangunkan orang tidur! Aku terus menggerutu, sampai seorang senior menghentikan langkahku.
”Malam, kak!”teriakku sembari berdiri tegak.
”Kamu membentuk barisan sendiri paling ujung!”
”Siap Kak!”jawabku sembari berlari menuju tempat yang dimaksud. Saat ini aku benar-benar deg-degan. Biasanya peserta yang melakukan kesalahan akan disendirikan. Dan itu terjadi padaku. Sampai ditempat,aku sudah disambut oleh wajah garang kakak seniorku yang lain.
”Kenapa kamu berdiri disini?!”bentaknya kearahku. Aku menelan ludah.
”Tidak tahu, Kak,”jawabku pelan.
Seniorku itu lalu memeriksa kelengkapanku. Dari atas sampai bawah.
”Kenapa tidak pakai papan nama?!”bentak seniorku itu lagi. Aku terkejut. Seingatku aku membawa papan nama tadi. Oh,mungkin talinya putus dan terjatuh sewaktu aku berlari tadi. Benar-benar sial.
”Tidak punya nama ya?!”lanjutnya. Aku diam saja, tidak menjawab.
”Push up sepuluh kali!”perintahnya sembari berbalik pergi. Mencari mangsa baru, pikirku.
Aku mengibaskan debu yang menempel dikemeja putihku. Masih dengan nafas ngos-ngosan aku melihat sekeliling. Dalam hati aku bisa bernafas lega, karena kulihat semua kakak seniorku sedang berkumpul di ujung lapangan yang lain. Sepertinya terjadi keributan disana. Ah,siapa peduli!
”Hei, kamu Aldi, kan?”suara perempuan membuatku menoleh.
”Ini papan nama kamu, terjatuh disana,”ujarnya sembari menyerahkan kertas karton lusuh bertuliskan namaku. Aku tersenyum lega.
”Terimaksih ya,”ucapku pelan. Dia tersenyum.
”Lho, kok kamu berani keluar barisan?”tanyaku heran pada gadis itu.
”Siapa bilang? Aku satu barisan denganmu kok,”jawabnya santai, lalu berdiri tepat dibelakangku.
”Tenang saja, senior kita sedang ribut disebelah utara,”katanya berbisik.
”Oh,ya?”tanyaku tak kalah pelan.
”Biasa, cari muka. Aku heran, kenapa masih ada acara kekerasan saat penerimaan siswa baru disekolah ini,”katanya dengan tatapan menerawang.Aku menoleh sedikit.
”Mungkin sudah tradisi,”jawabku sekenanya. Dia mendengus.
“Tidak mendidik,”lanjutnya.
”Eh...setelah ini semua peserta akan ditutup matanya. Lalu... selanjutnya akan terjadi drama seru,” katanya tepat ditelingaku,membuat bulu kudukku berdiri.
”Maksudnya...drama bagaimana...?”tanyaku penasaran. Dia tersenyum misterius.
”R...a..h..a...s..i..a..”jawabnya,membuatku semakin penasaran.
Belum selesai rasa penasaranku, apa yang diramalkan temanku tadi benar terjadi. Semua siswa ditutup matanya satu persatu. Lalu kurasakan tubuhku didorong entah kemana. Kudengar ada yang dicaci maki, lalu suara pukulan bertubi-tubi. Sayup-sayup kudengar suara temanku tadi merintih kesakitan. Apa wanita juga ikut dipukuli? Oh, ada apa ini? Aku mulai ngeri, sekolah macam apa ini?Kenapa pihak sekolah mengijinkan acara seperti ini?
Aku berusaha meraba sekitar, tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu. Dingin.
”Sst...ini aku Mia,yang dibelakangmu tadi Aldi.Buka saja matamu,”
Aku bernafas lega. Ternyata temanku tidak apa-apa.
”Memangnya boleh dibuka?”tanyaku.
Mia tidak memberiku jawaban. Langsung saja dilepaskannya kain yang menutupi mataku.
”Kamu baik-baik saja kan?”tanyaku saat melihat wajah Mia pucat. Mia mengangguk.
Aku menatap sekeliling. Sepi. Aku berada diruang kelas tiga yang kosong. Berdua saja dengan Mia. Heran, ternyata jauh juga perjalananku tadi. Jarak lapangan dan ruang kelas kan tidak dekat?
”Kita aman disini,”katanya sembari mengintip keluar.
”Ngomong-ngomong nama kamu Mia ya?”tanyaku membuka percakapan.
”Iya,”jawabnya singkat. Sekilas kutatap wajahnya. Ternyata dia cantik sekali.
”Kamu dikelas apa?”tanyaku lagi. Mia menoleh.
”Ra...ha...sia,”jawabnya sembari tersenyum simpul. Aku mencibir, lalu tertawa.
“Sampai kapan kita disini?”tanyaku.
”Em....sampai semua aman!Kamu ngantuk ya?tidur saja, biar aku yang jaga.”
Mia mengangguk meyakinkan, seolah mengerti tatapan mataku. Sungguh mataku sudah terasa berat, tetapi rasanya tidak enak membiarkan seorang gadis secantik Mia menjadi satpam.
Aku terbangun oleh sinar matahari yang menerobos masuk dari ventilasi. Aku mengerjapkan mata, ternyata aku tidur juga semalam. Eh, Mia mana? Jangan-jangan dia ketahuan senior lalu dihukum?
Bergegas aku keluar kelas dengan wajah bingung. Tampak siswa lain berseliweran menenteng peralatan mandi. Ternyata sekarang waktunya istirahat. Aku mengendap-endap memasuki ruang kelas. Semoga tidak ada orang, doaku dalam hati.
”Al, kemana aja sih, dari tadi dicariin temen-temen!”
Suara Beni mengagetkanku. Kulihat dia sudah berseragam rapi dan wangi.
“A..ku ketiduran di Mushola,”jawabku asal.
“Buruan mandi! Lima belas menit lagi acara penutupan.”
Tanpa banyak cakap, aku segera menuju kamar mandi. Sehabis mandi, pikiranku jadi lumayan fresh. Meskipun masih banyak sekali tanda tanya yang bergelantungan diotakku. Semua semakin membuatku penasaran. Drama tadi malam, dan semua yang dikatakan oleh Mia....Hei, dimana Mia?
Acara penutupan akan segera dimulai. Semua siswa dikumpulkan di aula, duduk dikursi yang sudah tertata rapi. Sedari tadi mataku tak henti-hentinya mencari sosok Mia. Heran,kenapa aku jadi merasa kehilangan begini ya?
”Al, kamu nyari siapa sih, gelisah sekali?”
Beni yang duduk disebelahku, rupanya memperhatikan tingkahku sejak tadi.
”Kamu tahu Mia?”tanyaku. Biasanya Beni cepat hafal nama cewek-cewek cantik disekolah.Meskipun baru pertama kali bertemu.
”Mia??Anak kelas apa?”tanyanya lagi. Aku menggeleng. Beni ikut menggeleng.
”Dia cantik sekali Ben. Matanya sayu, hidungnya mancung, rambutnya pendek diatas bahu. Mustahil kalau kamu tidak mengenalnya!”kataku berapi-api,membuat Beni menatapku heran.Beni kembali menggeleng. Aku kecewa.
”Tidak biasanya kamu memuji cewek sampai seperti itu?”
”Kamu baik-baik saja kan, Al?” lanjutnya lagi. Aku mengangguk sambil mendengus.
”Tenang saja, dia pasti datang. Semua siswa baru wajib kumpul diaula kok,” katanya menghiburku.
”Ben, semalam siapa yang dipukul?”tanyaku setengah berbisik.Beni menoleh.
”Dipukul? Kapan?”
”Waktu mata kita ditutup...”
Beni tampak berpikir sejenak.
”Tidak ada yang dipukul kok. Setelah mata ditutup, kita semua diarahkan ketengah lapangan membentuk lingkaran...”jelas Beni.
”Lalu semua begandengan tangan. Setelah itu, tutup mata kita dibuka.Eng...acara selanjutnya... menyanyi bersama lagu mars SMU kita,”jelas Beni panjang lebar. Aku mengernyitkan dahi, mencari kebenaran dari apa yang baru saja Beni ceritakan.
”Jangan melihatku seperti itu,Al. Sumpah,aku tidak bohong!”
Aku menghela nafas, memikirkan kejadian tadi malam. Lalu suara apa yang aku dengar semalam? Suara pukulan, rintihan, bentakan?Ah, aku bingung.
Acara penutupan telah selesai. Namun sosok Mia belum juga kutemukan. Bahkan saat keluar aula, aku sengaja memperlambat langkah, lalu berdiri dipintu keluar, kalau-kalau Mia muncul dari dalam.
Satu persatu peserta pulang.Kini hanya tinggal panitia yang tengah membersihkan ruangan. Aku masih berdiri lemas didepan pintu. Kuputuskan untuk berbalik pulang. Baru beberapa langkah, terdengar olehku seseorang menyebut nama Mia. Aku menoleh. Tampak seorang panitia dan seorang guru tengah bercakap dibalik pintu. Aku mendekat.
”Terimakasih bimbingannya Pak,Alhamdulillah acaranya lancar,”kata si panitia sembari menjabat tangan Bapak Guru itu.
”Ya,sama-sama... yang penting jangan ada lagi kekerasan disekolah kita.”
”Saya juga sangat hati-hati merancang acara ini Pak,jangan sampai kasus Mia terulang lagi,”ujar panitia itu lirih. Darahku berdesir. Aku mempertajam pendengaran. Aku sengaja tidak menampakkan diri, supaya tidak mengganggu pembicaraan mereka.
”Setelah selesai bersih-bersih, tolong kamu kumpulkan teman-teman. Kita bersama-sama kemakam Mia,”ujar Pak Guru itu sembari berlalu.
Aku masih berdiri dibalik pintu. Berusaha mempercayai apa yang baru saja kudengar.
(Nila)
”Cepat, lari!”teriak seniorku yang sudah bersiaga di luar lapangan.
”Dalam hitungan kesepuluh, semua membentuk barisan!”teriak kakak senior yang lain. Semua panik. Aku juga. Heran, kurang kerjaan sekali mereka. Malam-malam begini membangunkan orang tidur! Aku terus menggerutu, sampai seorang senior menghentikan langkahku.
”Malam, kak!”teriakku sembari berdiri tegak.
”Kamu membentuk barisan sendiri paling ujung!”
”Siap Kak!”jawabku sembari berlari menuju tempat yang dimaksud. Saat ini aku benar-benar deg-degan. Biasanya peserta yang melakukan kesalahan akan disendirikan. Dan itu terjadi padaku. Sampai ditempat,aku sudah disambut oleh wajah garang kakak seniorku yang lain.
”Kenapa kamu berdiri disini?!”bentaknya kearahku. Aku menelan ludah.
”Tidak tahu, Kak,”jawabku pelan.
Seniorku itu lalu memeriksa kelengkapanku. Dari atas sampai bawah.
”Kenapa tidak pakai papan nama?!”bentak seniorku itu lagi. Aku terkejut. Seingatku aku membawa papan nama tadi. Oh,mungkin talinya putus dan terjatuh sewaktu aku berlari tadi. Benar-benar sial.
”Tidak punya nama ya?!”lanjutnya. Aku diam saja, tidak menjawab.
”Push up sepuluh kali!”perintahnya sembari berbalik pergi. Mencari mangsa baru, pikirku.
Aku mengibaskan debu yang menempel dikemeja putihku. Masih dengan nafas ngos-ngosan aku melihat sekeliling. Dalam hati aku bisa bernafas lega, karena kulihat semua kakak seniorku sedang berkumpul di ujung lapangan yang lain. Sepertinya terjadi keributan disana. Ah,siapa peduli!
”Hei, kamu Aldi, kan?”suara perempuan membuatku menoleh.
”Ini papan nama kamu, terjatuh disana,”ujarnya sembari menyerahkan kertas karton lusuh bertuliskan namaku. Aku tersenyum lega.
”Terimaksih ya,”ucapku pelan. Dia tersenyum.
”Lho, kok kamu berani keluar barisan?”tanyaku heran pada gadis itu.
”Siapa bilang? Aku satu barisan denganmu kok,”jawabnya santai, lalu berdiri tepat dibelakangku.
”Tenang saja, senior kita sedang ribut disebelah utara,”katanya berbisik.
”Oh,ya?”tanyaku tak kalah pelan.
”Biasa, cari muka. Aku heran, kenapa masih ada acara kekerasan saat penerimaan siswa baru disekolah ini,”katanya dengan tatapan menerawang.Aku menoleh sedikit.
”Mungkin sudah tradisi,”jawabku sekenanya. Dia mendengus.
“Tidak mendidik,”lanjutnya.
”Eh...setelah ini semua peserta akan ditutup matanya. Lalu... selanjutnya akan terjadi drama seru,” katanya tepat ditelingaku,membuat bulu kudukku berdiri.
”Maksudnya...drama bagaimana...?”tanyaku penasaran. Dia tersenyum misterius.
”R...a..h..a...s..i..a..”jawabnya,membuatku semakin penasaran.
Belum selesai rasa penasaranku, apa yang diramalkan temanku tadi benar terjadi. Semua siswa ditutup matanya satu persatu. Lalu kurasakan tubuhku didorong entah kemana. Kudengar ada yang dicaci maki, lalu suara pukulan bertubi-tubi. Sayup-sayup kudengar suara temanku tadi merintih kesakitan. Apa wanita juga ikut dipukuli? Oh, ada apa ini? Aku mulai ngeri, sekolah macam apa ini?Kenapa pihak sekolah mengijinkan acara seperti ini?
Aku berusaha meraba sekitar, tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu. Dingin.
”Sst...ini aku Mia,yang dibelakangmu tadi Aldi.Buka saja matamu,”
Aku bernafas lega. Ternyata temanku tidak apa-apa.
”Memangnya boleh dibuka?”tanyaku.
Mia tidak memberiku jawaban. Langsung saja dilepaskannya kain yang menutupi mataku.
”Kamu baik-baik saja kan?”tanyaku saat melihat wajah Mia pucat. Mia mengangguk.
Aku menatap sekeliling. Sepi. Aku berada diruang kelas tiga yang kosong. Berdua saja dengan Mia. Heran, ternyata jauh juga perjalananku tadi. Jarak lapangan dan ruang kelas kan tidak dekat?
”Kita aman disini,”katanya sembari mengintip keluar.
”Ngomong-ngomong nama kamu Mia ya?”tanyaku membuka percakapan.
”Iya,”jawabnya singkat. Sekilas kutatap wajahnya. Ternyata dia cantik sekali.
”Kamu dikelas apa?”tanyaku lagi. Mia menoleh.
”Ra...ha...sia,”jawabnya sembari tersenyum simpul. Aku mencibir, lalu tertawa.
“Sampai kapan kita disini?”tanyaku.
”Em....sampai semua aman!Kamu ngantuk ya?tidur saja, biar aku yang jaga.”
Mia mengangguk meyakinkan, seolah mengerti tatapan mataku. Sungguh mataku sudah terasa berat, tetapi rasanya tidak enak membiarkan seorang gadis secantik Mia menjadi satpam.
Aku terbangun oleh sinar matahari yang menerobos masuk dari ventilasi. Aku mengerjapkan mata, ternyata aku tidur juga semalam. Eh, Mia mana? Jangan-jangan dia ketahuan senior lalu dihukum?
Bergegas aku keluar kelas dengan wajah bingung. Tampak siswa lain berseliweran menenteng peralatan mandi. Ternyata sekarang waktunya istirahat. Aku mengendap-endap memasuki ruang kelas. Semoga tidak ada orang, doaku dalam hati.
”Al, kemana aja sih, dari tadi dicariin temen-temen!”
Suara Beni mengagetkanku. Kulihat dia sudah berseragam rapi dan wangi.
“A..ku ketiduran di Mushola,”jawabku asal.
“Buruan mandi! Lima belas menit lagi acara penutupan.”
Tanpa banyak cakap, aku segera menuju kamar mandi. Sehabis mandi, pikiranku jadi lumayan fresh. Meskipun masih banyak sekali tanda tanya yang bergelantungan diotakku. Semua semakin membuatku penasaran. Drama tadi malam, dan semua yang dikatakan oleh Mia....Hei, dimana Mia?
Acara penutupan akan segera dimulai. Semua siswa dikumpulkan di aula, duduk dikursi yang sudah tertata rapi. Sedari tadi mataku tak henti-hentinya mencari sosok Mia. Heran,kenapa aku jadi merasa kehilangan begini ya?
”Al, kamu nyari siapa sih, gelisah sekali?”
Beni yang duduk disebelahku, rupanya memperhatikan tingkahku sejak tadi.
”Kamu tahu Mia?”tanyaku. Biasanya Beni cepat hafal nama cewek-cewek cantik disekolah.Meskipun baru pertama kali bertemu.
”Mia??Anak kelas apa?”tanyanya lagi. Aku menggeleng. Beni ikut menggeleng.
”Dia cantik sekali Ben. Matanya sayu, hidungnya mancung, rambutnya pendek diatas bahu. Mustahil kalau kamu tidak mengenalnya!”kataku berapi-api,membuat Beni menatapku heran.Beni kembali menggeleng. Aku kecewa.
”Tidak biasanya kamu memuji cewek sampai seperti itu?”
”Kamu baik-baik saja kan, Al?” lanjutnya lagi. Aku mengangguk sambil mendengus.
”Tenang saja, dia pasti datang. Semua siswa baru wajib kumpul diaula kok,” katanya menghiburku.
”Ben, semalam siapa yang dipukul?”tanyaku setengah berbisik.Beni menoleh.
”Dipukul? Kapan?”
”Waktu mata kita ditutup...”
Beni tampak berpikir sejenak.
”Tidak ada yang dipukul kok. Setelah mata ditutup, kita semua diarahkan ketengah lapangan membentuk lingkaran...”jelas Beni.
”Lalu semua begandengan tangan. Setelah itu, tutup mata kita dibuka.Eng...acara selanjutnya... menyanyi bersama lagu mars SMU kita,”jelas Beni panjang lebar. Aku mengernyitkan dahi, mencari kebenaran dari apa yang baru saja Beni ceritakan.
”Jangan melihatku seperti itu,Al. Sumpah,aku tidak bohong!”
Aku menghela nafas, memikirkan kejadian tadi malam. Lalu suara apa yang aku dengar semalam? Suara pukulan, rintihan, bentakan?Ah, aku bingung.
Acara penutupan telah selesai. Namun sosok Mia belum juga kutemukan. Bahkan saat keluar aula, aku sengaja memperlambat langkah, lalu berdiri dipintu keluar, kalau-kalau Mia muncul dari dalam.
Satu persatu peserta pulang.Kini hanya tinggal panitia yang tengah membersihkan ruangan. Aku masih berdiri lemas didepan pintu. Kuputuskan untuk berbalik pulang. Baru beberapa langkah, terdengar olehku seseorang menyebut nama Mia. Aku menoleh. Tampak seorang panitia dan seorang guru tengah bercakap dibalik pintu. Aku mendekat.
”Terimakasih bimbingannya Pak,Alhamdulillah acaranya lancar,”kata si panitia sembari menjabat tangan Bapak Guru itu.
”Ya,sama-sama... yang penting jangan ada lagi kekerasan disekolah kita.”
”Saya juga sangat hati-hati merancang acara ini Pak,jangan sampai kasus Mia terulang lagi,”ujar panitia itu lirih. Darahku berdesir. Aku mempertajam pendengaran. Aku sengaja tidak menampakkan diri, supaya tidak mengganggu pembicaraan mereka.
”Setelah selesai bersih-bersih, tolong kamu kumpulkan teman-teman. Kita bersama-sama kemakam Mia,”ujar Pak Guru itu sembari berlalu.
Aku masih berdiri dibalik pintu. Berusaha mempercayai apa yang baru saja kudengar.
(Nila)
Category Article Catatan Kecil
Popular Posts
-
Banyak cara yang bisa dilakukan dalam mengisi waktu luang. Membaca, mendengarkan musik? Itu biasa….kalau di Batam beda lagi ceritanya..Para ...
-
Pagi-pagi online, dapetin trik keren ini... Selamat mencoba trik ini ! Gerakan yang tepat di pagi hari akan membuat Anda fokus, bersemang...
-
Mungkin Anda tidak percaya dengan foto-foto ini. Foto ini nyata tanpa ada pengeditan.
-
Sapa mau dapat 5$ dari marketiva? Tanpa syarat apapun cuma daftar dan isi formulir pendaftaran dengan benar. Yo buruan daftar Jangan tung...
-
Yogyakarta - Secara psikologis, autisme dipahami sebagai keadaan seseorang yang lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendir...
Archive
-
▼
2009
(23)
-
▼
February
(13)
- Anak Kecil yang Takut Api Neraka
- Peranan Pemuda Islam Dalam Masyarakat
- Brazil atasi Italia, Indonesia bantai Jerman
- Sunset di Pantai Depok
- Ada Yang Tersembunyi dari Mia
- Letak Kecantikan Wanita
- Bagaimana Anda Mampu Kuat Bekerja
- Berubah Aja
- Rela Dimasukkan ke Dalam Neraka
- Tips Melamar Pekerjaan Via Email
- Keep Your Smile
- ANTARA SABAR DAN MENGELUH
- Wanita Berjilbab Idaman Setiap Laki-laki
-
▼
February
(13)